JAJAN TONGGO NGLARISI KONCO

Kamis Legi, 7 Desember 2017 11:00 WIB ∼ 1689 Komentar (0)

Foto Berita

Berawal dari dimulainya perdagangan bebas yang disebut ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) yang dimulai per 1 januari 2010, yang dilanjutkan dengan pemberlakuan pasar bebas Asia Tenggara atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)  atau ASEAN Economic Community per 1 januari 2016. Maka arus perdagangan barang dan  jasa bahkan pasar tenaga kerja profesional menjadi terbuka secara lebih bebas. Indonesia sebagai salah satu bagian dari kesepakatan dimaksud harus mengantisipasi dengan cepat dan tepat agar tidak menjadi penonton.

Pengaruh perdagangan bebas tersebut tidak saja berdampak kepada arus dan distribusi barang dan jasa, tetapi juga pada pola perilaku masyarakat dalam memperoleh barang dan jasa. Perubahan pola perilaku ini juga mempunyai pengaruh yang signifikan dalam perkembangan Usaha Mikro Kecil (UMK)  di Indonesia. Usaha Mikro Kecil (UMK) yang memiliki daya saing lemah, akan semakin tergeser karena semakin banyaknya produk sejenis yang lebih murah. Sektor perdagangan akan berhadapan secara head to head antara yang besar dengan yang kecil. Mereka yang memiliki modal dan SDM terbatas memerlukan kreatifitas yang cukup agar bisa bersaing dengan mereka.

Kondisi seperti ini diperlukan terobosan untuk penguatan Usaha Mikro Kecil (UMK), antara lain sebuah strategi/cara  yang bisa mempengaruhi konsumen dalam  memilih barang dan jasa yang diperlukan agar lebih menguntungkan tidak hanya kepada Usaha Mikro Kecil (UMK), tetapi juga perekonomian kerakyatan  secara nasional.

Bupati Bantul telah menetapkan slogan MAKARYO MBANGUN DESO sebagai slogan untuk pembangunan di Kabupaten Bantul. Slogan ini sejalan dengan perubahan paradigma pembangunan pedesaan secara nasional, yang semula MEMBANGUN DESA menjadi DESA MEMBANGUN.

Dalam kapasitas yang lebih membumi, diperlukan suatu tekad agar slogan MAKARYO MBANGUN DESO dapat lebih jelas dan segera  dapat diimplementasikan kepada masyarakat, sehingga visi Kabupaten Bantul untuk mewujdkan masyarakat yang Sehat, Cerdas dan Sejahtera segera terealisir.

Sangat lambatnya penurunan angka kemiskinan di Bantul, dimana pada tahun 2016 masih di angka 14,56% yang berarti masih diatas rata-rata DIY maupun rata-rata angka kemiskinan Nassional,  mendorong perlunya akselerasi dalam strategi penanggulangan kemiskinan dengan berbagai cara. Salah satu strategi yang dilakukan oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Kab. Bantul adalah “ mengupayakan nilai-nilai dan pranata sosial yang mengkayakan”. Pemerintah Kecamatan Sedayu mencoba menggali strategi tersebut yang mungkin bisa dilaksanakan. Salah satu nilai dimaksud adalah slogan “JAJAN TONGGO NGLARISI KONCO”.  Secara substansi, slogan ini hampir sama dengan slogan Bupati Kulonprogo yaitu BELA BELI KULONPROGO atau pun gerakan BELANJA DI WARUNG TETANGGA.

Slogan “JAJAN TONGGO NGLARISI KONCO” merupakan upaya edukasi sosial kepada masyarakat dalam membeli  barang dan jasa dengan selalu memperhatikan  siapa produsennya dan dimana membelinya. Hal ini karena adanya indikasi menurunnya omzet beberapa Usaha Mikro Kecil (UMK) karena kalah bersaing dengan produk-produk luar, bahkan banyak yang menutup usahanya karena beralihnya konsumen kepada barang dan jasa produk luar.

Hal ini tidak boleh dibiarkan untuk menyelamatkan ekonomi kerakyatan secara nasional. Ekonomi kerakyatanmerupakan  sistem ekonomi yang mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat dalam proses pembangunan berdasarkan azas kekeluargaan. Tujuannya adalah untuk menjamin agar kemakmuran rakyat senantiasa lebih diutamakan. Sehingga masyarakat bisa meningkatkan kesejahteraan secara bersama-sama.

.

Slogan “JAJAN TONGGO NGLARISI KONCO”, dipilih sengaja memakai bahasa Jawa, semata-mata agar substansi pesan bisa lebih mengena, sehingga cepat tersosialisasikan ke segenap masyarakat. Dan pilihan dalam bahasa jawa terbukti lebih cepat direspon oleh masyarakat.

Slogan tersebut menekankan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Perubahan mindset masyarakat untuk lebih mencintai produk dalam negeri baik barang maupun jasa. Secara redaksional di personifikasikan dalam kata TONGGO dan KONCO. TONGGO berarti tetangga dan KONCO berarti teman. Hal ini karena adanya trend pada sebagaian masyarakat yang latah, dimana mereka lebih menyukai  produk-produk luar dengan alasan, seperti bergaya mewah, gengsi, dan lain-lain.
  2. Melakukan transaksi jualbeli dengan TONGGO/KONCO bukan semata-mata masalah tukar menukar barang/jasa dengan uang.  Tetapi ada nilai-nilai sosial didalamnya antara lain adalah  nilai-nilai  kekeluargaan, kepercayaan, kejujuran, komitmen kebersamaan dan lain sebagainya. Ada beban moral terhadap kualitas pelayanan dan kualitas produk ketika konsumen adalah tetangga/teman. Demikian juga ada kepercayaan dari konsumen kepada produsen, sehingga transaksi bisa  lebih mudah dan cepat dilaksanakan.
  3. Penanaman nilai-nilai kesadaran dan kebanggaan dengan produk dalam negeri, karena produk dalam negeri tidak kalah berkualitas dengan produk luar negeri. Dalam skala luas hal ini juga peningkatan jiwa nasionalisme sebagai bangsa Indonesia.
  4. Penekanan terhadap komitmen untuk kaya bersama-sama, bukan mengkayakan yang sudah kaya. Dengan komitmen ini akan menumbuhkan rasa senasib sepenanggungan, sehingga tumbuh jiwa tolong-menolong danikhlas berkorban bagi sesama warga.

 

Yang perlu di tekankan agar tidak salah persepsi adalah, bahwaslogan “JAJAN TONGGO NGLARISI KONCO” ini tidak berarti mendorong masyarakat anti dengan segala produk dari luar, karena bagaimanapun juga kita tidak bisa terlepas dari hal itu. Tapi bagaimana membuat keseimbangan dan kondisi yang lebih menguntungkan masyarakat antara distribusi produk dalam negeri dengan produk luar negeri. Adanya produk luar sebenarnya juga memberikan keuntungan bagi kita seperti terjadinya transfer knowledge/teknologi dari luar,memicu motivasi dan kreatifitas masyarakat untuk membuat produk yang lebih unggul, sebagai alat pemenuhan kebutuhan yang memang tidak bisa diproduk di dalam negeri, dan sebagainya.

 

Oleh karena itu, slogan ini tidak cukup sekedar disosialisasikan, tapi harus diinternalisasikan ke semua warga masyarakat agar dapat segera dilaksanakan, sehingga trend keterpurukan Usaha Mikro Kecil (UMK)  menjadi kebangkitan Usaha Mikro Kecil (UMK)  menjadi lebih cepat terwujud.

Berkaitan dengan hal itu telah dilakukan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Dokumentasi slogan “JAJAN TONGGO NGLARISI KONCO”dalam bentuk logo dan branding agar bisa dipakai sebagai referensi dan acuan bagi stakeholder terkait.
  2. Sosialisasi slogan “JAJAN TONGGO NGLARISI KONCO”melalui semua media yang ada, baik media sosial, media cetak, media audio/visual, dan sebagainya.
  3. Sosialisasi melalui media langsung seperti pembuatan stiker, topi, kaos, banner, dan sebagainya.
  4. Sosialisasi melalui media audiensi secara langsung kepada masyarakat pada acara-acara kemasyarakatan baik secara khusus maupun acara kemasyarakatan lainnya.
  5. Pemberian contoh oleh tokoh-tokoh masyarakat saat kegiatan transaksi pembelian barang/jasa kepada masyarakat.

 

Sosialisasi dan internalisasi slogan tersebut, perlu dilaksanakan secara massal danterus-menerus agar bisa merubah pola perilaku masyarakat dalam membeli barang dan jasa untuk mencukupi kebutuhannya sehari hari. Harapannya apabila slogan ini dapat dilaksanakan,maka dapat terwujud kondisi masyarakat yang diinginkan yaitu :

  1. Makin berkembangnya Usaha Mikro Kecil (UMK) di masyarakat sehingga mampu menjadi lokomotif peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini juga berarti penguatan ekonomi kerakyatansecara nasional
  2. Meningkatnya kualitas dan kuantitas produksi barang dan jasa oleh masyarakat sehingga mempunyai daya saing yang makin kuat.
  3. Makin kuatnya jiwa gotong royong, kekeluargaan  dan kebersamaan diantara warga masyarakat, dan dalam skala nasional mampu menumbuhkan jiwa nasionalisme yang semakin kokoh.
  4. Target penurunan Angka kemiskinan dapat segera tercapai  sesuai  yang telah ditetapkan yaitu 2% per tahun.

 

Demikian, harapan kita slogan ini bisa terinternalisasi ke semua warga masyarakat tidak hanya di Kecamatan Sedayu, tetapi bisa mencakup masyarakat dalam level lebih atas, di Kabupaten Bantul, tingkat D.I. Yogyakarta bahkan sampai tingkat Nasional.



Komentar (0)

Nama harus di isi.
Format E-mail tidak tepat.
Pesan harus diisi, minimal 10 karakter, maksimal 1000 karakter.

Puskesmas
di Kecamatan Sedayu

Puskesmas Sedayu I

Puskesmas Sedayu I

Panggang, Argomulyo, Sedayu, Bantul
(0274) 7477131

Puskesmas Sedayu II

Puskesmas Sedayu II

Jl. Wates Km 12, Semampir, Argorejo, Sedayu, Bantul
(0274) 7466886

Komando Rayon Militer Sedayu

Koramil / Komando Rayon Militer Sedayu

Jl. Yogya - Wates Km. 10 Argomulyo, Sedayu

Kepolisian Sektor Sedayu

Polsek / Kepolisian Sektor Sedayu

Jl. Yogya - Wates Km 10.5 Argomulyo, Sedayu
(0274) 795968

Kantor Urusan Agama Sedayu

KUA / Kantor Urusan Agama Sedayu

Jl. Wates Km. 10 Karanglo, Sedayu, Bantul
(0274) 7499163