SENI TRADISIONAL KHADISISWO

Kamis Pon, 27 Juni 2019 07:02 WIB ∼ 124 Komentar (0)

Foto Berita
Khadissisna, Seni Tradisional Religius Sungapan Di sebelah selatan Kecamatan Sedayu, tepatnya setelah melewati dan menurutkan bangjo Sedayu sekitar empat kilometer, di situlah Dusun Sungapan terletak. Sebagai salah satu kesenian, Khadissiwa merupakan jenis tari Sungapan dalam bentuk Sholawatan. Adapun kata Sholawat berasal dari bahasa Arab dalam bentuk jamak dari kata sholat yang bermakna doa dan pemberian berkat. Menurut penjelasan Bapak Parmudi, selaku sesepuh sekaligus ketua Khadissiswa, kesenian ini berasal dari daerah Mendut, yang awalnya dipelajari oleh Bapak Sastro Sumaro dan kemudian dikembangkan di Dusun Dingkikan, Argodadi, Sedayu, Bantul. Setelah berkembang selanjutnya dibina oleh Bapak Muh. Irsad dari Susukan, beliau adalah mantan ketua KUA Sedayu. Khadissiwa diresmikan yang bermakna doa dan emberian berkat. Kelahiran Khadissiwa yang disusul meletusnya G 30 S PKI tahun 1965, menimbulkan permasalahan di tengah masyarakat. Adanya berbagai hasutan saling membenci, dan permusuhan menimbulkan keprihatinan dari sesepuh Sungapan Dukuh untuk menyatukan masyarakat dengan media berkesenian. Maka, dipanggillah pelatih Shadissiswa dari Dingkikan, yaitu Bapak Sumarjio untuk melatih masyarakat Sungapan Dukuh. Dengan irama syair-syair lagu yang dilantukan, dengan irama syair nasihat-nasihat fatwa agama ternyata dapat menciptakan ketentraman hati masyarakat sehingga pada 8 September 1965 resmi didirikan kesenian Khadissiswa di Sungapan Dukuh. Mencari hikmah di balik visualisasi penampilan kesenian Khadissiswa ini kita dapatkan hal unik dan sangat menarik. Uniknya kita lihat dari pemaduan antara makna simbolik dari permainan yang tampak berupa ketangkasan berakrobatik di udara dengan pemanfaatan tali sebahai wahananya. betapa sulitnya untuk “menguasai” tali sebagai yang harus ditaklukkan, untuk bisa dimanfaatkan bagi sesuatu tujuan. Dan, tidak lain menurut ajaran Islam secara simbolik tali itu adalah “wot agil-agil” menurut istilah orang Jawa, di mana ada “jalan” selebar rambut dibelah tujuh menuju syurga. sementara itu, dalam peragaan upaya penaklukan/penguasaan tali itu ditampilkan secara akrobatik kemampuan sangat lihai. bagaimana halnya tali bisa diperankan ibarat panggung untuk menunjukkan gerak-gerak indah, dalam formasi yang sangat beragam. Bagaimana mungkin seutas tali bisa diasosiasikan sebagai tempat untuk tidur dengan kedua kaki berposisi di atas dan kepala di bawah. Juga tali mampu diberdayakan seolah tanah untuk hanya dengan satu kaki berpijak dan kaki lainnya direntakan jauh dari kaki tertempel di tali dan seperti berdiri sangat perkasa di udara. Ditambah dengan komediannya yang dengan ungkap kelompok penyanyi, “Galo kae saya suwe saya edi”, ketika Sang Akrobatik sedang membuat gerak-gerakan sangat indah memukau, dan diparadoksalkan dengan kata-kata syair lagunya, “Aku dhewe ora wani”, yang secara keseluruhan dua penggal kalimat itu bermakna, “Lihatlah atraksi itu betapa hebat dan aku sendiri (para penyanyi) tidak berani”, menambah suasana menjadi sangat segar menghujam di hati. Sebagai puncak adegan di udara, yakni ketika pemain membuat gerakan memutar melingkarkan diri sebelum menyulut semacam rokok lalu menghempaskan asap dan semburan api di udara yang keluar dari mulutnya sehingga tampak pemandangan seperti sesaat ada pecahan kembang api. Bagi para penari pengiring yang berada di bawah, mengirama dengan musik yang didominasi oleh bunyi bendhe sebagai penyetir ritme dan hentakan bunyi drum untuk penciptaan suasana bergairah, serta tampak menjadi renyah dan lebih hidup, sejumlah penari yang berkostum sebagian bergaya dandanan prajurit keratin dan sebagian lagi tampak bernuansa kejawen dengan kepala ditutup ikat kepala lembaran, keduanya dengan pedang sserasi. Gerakan seperti kayaknya orang siaga penjaga keamanan dengan pedang dan tameng di tangan, mampu mengasosiasikan begitulah model penampilan para abdi waktu zaman dahulu. Terlihat dari segenap kemasannya, seperti kostum para penari yang mampu terekspresikan symbol-simbol suasana kraton, seperti dandanan yang melekat di tubuh ada motif seperti sampur dan kain yang disertakan sebagai penguat imajinasi, tampak bahwa Khadissiswa memiliki tingkat profesioanl tinggi dalam penggarapan akraksi. Nilai lebih yang taka da duanya ialah tampilnya pemain yang sekalipun di udara kadang membentuk seperti orang menari, membuat gerakan terbang di udara, berada seperti di tepi tebing, adalah sesuatu yang khas dan nilai lebih yang sulit tertandingi. Keterampilan, keberanian, dan kecermatan terpadu dalam sistem yang utuh dan prima. Keempat kelompok penari, yaitu penari setrat yang tanpa properti, kelompok penari rodat yang mengenakan property pedang dan tameng, kelompok penari Komidi dan akroatik adalah yang menjadi puncak tertingginya, serta membawa misi terpenting secara religious. Secara simbolik, berurutan dalam kehidupan akhir seorang manusia akan mati. selanjutnya harus meniti “shirot”, jembatan yang membentang di atas neraka, dengan berbagai hambatan, himpitan, dan lilitan, Yakni ketika hidup di dunia penuh coba dan ujian, barang siapa yang mampu meniti shirot akan samapi tujuan, yatu surge. Iringan penguat penampilan dalam tari Khadissiswa, yag berupa jidhar dan bedug, bende 1 dan 2 (pung-dhil), dhe-rodog sebagai alat penghubung/bowo, drum sebagai pelengkap dan penyemangat, dan peluit pemberi aba-aba dalam setiap peralihan gerakan tari. Ungkapan dalam notasi lagu-lagu pengiring sedari atur pambagya, sholawat badar, bulan maulid, main kumidi, hingga lailahaillah, yang kalau lengkap dinyanyikan berjumlah 33 macam menunjukkan Khadissiswa boleh dibilang kesenian tradisi yang telah dimoderisasikan dalam banyak aspek dan tradisi yang tak bakal ketinggalan dan tenggelam oleh riuhnya kehidupan modern macam apapun. Apalagi para generasi muda wanitanya pun telah ikut unjuk diri, mulai tergabung di dalamnya makin lengkap instrument terpadu yang dibutuhkannya.


Komentar (0)

Nama harus di isi.
Format E-mail tidak tepat.
Pesan harus diisi, minimal 10 karakter, maksimal 1000 karakter.

Puskesmas
di Kecamatan Sedayu

Puskesmas Sedayu I

Puskesmas Sedayu I

Panggang, Argomulyo, Sedayu, Bantul
(0274) 7477131

Puskesmas Sedayu II

Puskesmas Sedayu II

Jl. Wates Km 12, Semampir, Argorejo, Sedayu, Bantul
(0274) 7466886

Komando Rayon Militer Sedayu

Koramil / Komando Rayon Militer Sedayu

Jl. Yogya - Wates Km. 10 Argomulyo, Sedayu

Kepolisian Sektor Sedayu

Polsek / Kepolisian Sektor Sedayu

Jl. Yogya - Wates Km 10.5 Argomulyo, Sedayu
(0274) 795968

Kantor Urusan Agama Sedayu

KUA / Kantor Urusan Agama Sedayu

Jl. Wates Km. 10 Karanglo, Sedayu, Bantul
(0274) 7499163